Pemerintah Myanmar Penjarakan 116 Orang Rohingya Yang Berupaya Kabur

Pengadilan Myanmar telah memenjarakan 116 orang, termasuk 12 anak Rohingya.

Pengadilan Bogale di wilayah Ayeyarwady selatan Myanmar, yang berada di bawah yurisdiksi pemerintah militer, menjatuhkan hukuman terhadap kelompok minoritas tersebut pada 6 Januari, RFA melaporkan pada hari Selasa.

“Kelompok itu ditangkap pada bulan Desember setelah mereka ditemukan di sebuah perahu motor tanpa dokumen resmi apa pun,” tulis laporan dari Global New Light of Myanmar, yang dimuat Aljazeera.

Pada saat penangkapan, orang-orang itu sedang menunggu kapal lain yang akan membawa mereka ke pantai di Bogale, untuk kemudian berlayar menuju negara Malaysia.

Semua orang dewasa yang melanggar undang-undang imigrasi ini akan dipenjara selama lima tahun lamanya di penjara Pyapon Ayeyarwady, tambah laporan tersebut.

Sementara 12 anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun akan dihukum dua tahun, dan anak yang lebih tua mendapatkan hukuman tiga tahun untuk dimasuki ke Pusat Rehabilitasi Pemuda Hnget Aw San dan Pusat Pemasyarakatan Pemuda Twante di Wilayah Yangon pada Senin (9/1) kemarin.

Catatan RFA menunjukkan bahwa antara Desember 2021 dan 6 Januari 2023, total 1.816 Rohingya yang melarikan diri dari kamp pengungsi di Negara Bagian Rakhine dan Bangladesh telah ditangkap di Myanmar, dengan 387 di antaranya dijatuhi hukuman penjara dua hingga lima tahun lamanya.

Baru-baru ini, setidaknya 185 Rohingya mendarat di Aceh, provinsi paling utara Indonesia pada akhir bulan lalu dengan kondisi mengenaskan, setelah mereka bersama kapalnya terapung-apung di laut selama berminggu-minggu tanpa makanan dan minuman yang cukup.

Anak-anak dipindahkan ke “sekolah pelatihan pemuda” di dekat pusat komersial Yangon pada 8 Januari, lapor surat kabar tersebut, tanpa memberi rincian lebih lanjut.

Baca Juga :  Hedging Forex Adalah

Laporan itu menyebut kelompok tersebut sebagai “Bengali,” kata yang digunakan untuk merendahkan minoritas Muslim Rohingya. Mereka tidak diberi kewarganegaraan oleh Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Budha, dan seringkali memerlukan izin untuk bepergian.

Tindakan keras militer di Myanmar pada 2017 membuat ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh, di mana para pengungsi tersebut datang dengan membawa cerita mengerikan seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran yang dialami oleh komunitas tersebut.

Myanmar menghadapi tuduhan genosida di pengadilan tinggi PBB setelah terjadinya eksodus massal para warga Rohingya. Mereka tidak diberi kewarganegaraan oleh Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Budha, dan seringkali memerlukan izin untuk bepergian.

Ribuan orang Rohingya mempertaruhkan nyawa setiap tahun dengan melakukan perjalanan berbahaya dari kamp-kamp di Bangladesh dan Myanmar untuk mencapai Malaysia dan Indonesia yang mayoritas penduduknya beraga Islam.

kapal kayu yang membawa hampir 200 pengungsi Rohingya, umumnya perempuan dan anak-anak, mendarat di Aceh, Indonesia. Rombongan pengungsi tersebut merupakan yang kelima yang tiba di Indonesia sejak November, menurut pihak berwenang.

Lebih dari 2.000 Rohingya diyakini telah melakukan perjalanan berisiko tahun lalu, menurut Badan Pengungsi PBB UNHCR.