Kekecewaan Keluarga Yosua Terkait Putusan Hakim Untuk Tuntutan Kuat Ma’ruf Dan Ricky

Ramos Futabarat, kuasa hukum keluarga Brigjen N. Yosua Futavaarat, mengatakan keluarga Yosua kecewa dengan dakwaan jaksa terhadap Malhu Kuat dan Brigjen Ricky Rizal. Keluarga Joshua juga kecewa dengan kesimpulan jaksa.
“Keluarga sangat kecewa dengan permintaan jaksa atas apa yang dibacakan kemarin,” kata Ramos, Selasa (17 Januari 2023).

Keluarga Yosua juga kecewa jaksa menyimpulkan adanya perselingkuhan antara Yosua dan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Menurut keluarga, kesimpulan jaksa tidak berdasar.

“Bukan hanya mereka menganggap tuntutan tersebut sangat ringan, tapi kesimpulan yang disampaikan jaksa penuntut umum pada sidang sangat tidak berdasar. Di mana mereka menyimpulkan ada perselingkuhan antara PC (Putri Candrawathi) dan korban (Brigadir J),” katanya.

Ramos juga mengatakan keluarga Yosua memiliki harapan untuk tuntutan Sambo. Keluarga Yosua berharap Sambo dituntut mati.

“Harapan kami Ferdy Sambo dituntut maksimal sesuai pasal 340, yaitu hukuman mati,” tuturnya.

Jaksa mengatakan Strong dan Ricky terbukti melanggar pasal 340 tentang pembunuhan berencana juncto pasal 55(1) KUHP.

JPU juga memaparkan sejumlah peran Kuat dan Ricky dalam kasus itu.

Jaksa memaparkan, Kuat sudah membawa sebilah pisau dari Magelang, Jawa Tengah, dalam perjalanan menuju Jakarta pada 8 Juli 2022.

Pisau itu, kata jaksa, digunakan Kuat buat mengejar Yosua dalam pertengkaran di rumah pribadi mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, pada 7 Juli 2022.

“Bahwa benar terdakwa Kuat Ma’ruf membawa sebuah pisau dapur yang digunakannya untuk mengejar korban Nofriansyah Yosua Hutabarat ke dalam tas selempang berwarna hitam sebagai bentuk pengamanan apabila ada perlawanan dari korban selama dalam perjalanan dari Magelang menuju Jakarta,” kata jaksa saat membacakan fakta hukum dalam surat tuntutan Kuat.

Baca Juga :  Kompol D Kabarnya Di Mutasi, Begini Alasan Polda Metro Jaya

JPU mengatakan, pertengkaran itu terjadi setelah Kuat memergoki dugaan perselingkuhan antara Yosua dan Putri.

“Bahwa benar korban Nofriansyah Yosua Hutabarat keluar dari kamar saksi Putri Candrawathi di lantai 2 rumah Magelang dan diketahui terdakwa Kuat Ma’ruf,” kata jaksa saat membacakan tuntutan.

“Sehingga, terjadi keributan antara terdakwa Kuat Ma’ruf dan korban Nofriansyah Yosua Hutabarat yang mengakibatkan terdakwa mengejar korban dengan menggunakan sebuah pisau dapur,” lanjut jaksa.

Setelah tiba di Jakarta, jaksa mengatakan, Kuat ikut ke rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga nomor 46 yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP).

Di lokasi itu, Kuat disebut berperan menutup pintu dan jendela rumah.

“Benar terdakwa Kuat Ma’ruf sesuai dengan pembicaraan dengan saksi Ferdy Sambo mengenai perannya langsung menutup pintu bagian depan untuk meredam suara dan menutup akses jalan keluar apabila korban Nofriansyah Yosua Hutabarat melarikan diri,” ujar jaksa.

“Kemudian, terdakwa Kuat Ma’ruf naik ke lantai dua untuk menutup pintu balkon di saat kondisi matahari masih terang benderang belum gelap,” jelas jaksa.

Kesimpulan tersebut didapatkan dari fakta persidangan yang disampaikan asisten rumah tangga (ART) Ferdy Sambo, Kodir, Kuat Ma’ruf, dan Richard Eliezer.

“Ini disimpulkan dari keterangan saksi Diryanto alias Kodir, keterangan terdakwa Kuat Maruf dan keterangan saksi Richard Eliezer,” ucap jaksa.

Jaksa penuntut umum juga memaparkan peranan Ricky dalam kasus itu.